Perlawanan Rakyat Indonesia Melawan Portugis
Pertama kali, kedatangan Portugis ke Maluku pada 1521 dipimpin oleh Alfonso d’Albuquerque, di mana mereka diterima baik oleh Kerajaan Ternate yang bersekutu untuk melawan Kerajaan Tidore. Namun, konflik muncul saat Spanyol juga tiba pada tahun yang sama dan bersekutu dengan Tidore. Perebutan wilayah ini mereda setelah Perjanjian Zaragoza pada 1529, memungkinkan Portugis menguasai Maluku. Penyebaran agama Katholik, monopoli perdagangan, campur tangan dalam pemerintahan, dan tuntutan berlebihan akhirnya memicu perlawanan dari Sultan Hairun pada 1570, yang berlanjut hingga Sultan Baabullah berhasil mengusir Portugis dari Maluku pada 1575. Perlawanan dipicu oleh monopoli perdagangan, campur tangan pemerintahan, penyebaran agama Katholik, serta keserakahan dan kesombongan Portugis.